Pamekasan,GerakNusantara.id – Alhamdulillah, kita berkumpul dalam pertemuan rutin dua bulanan yang menghadirkan kepala desa se-Kabupaten Pamekasan dengan tingkat kehadiran mencapai 80%, sedangkan 20% lainnya diwakili oleh pamung atau puncarek. Semoga pertemuan ini senantiasa membawa keberkahan, melahirkan gagasan yang mencerahkan, dan menjadikan kita anak-anak ideologis yang berani membela kebenaran.
Terima kasih kepada Tuan Rumah, Dewan Pembina, Haji Saleh, Haji Her, Ketua IKASA, Ketua PKDI, dan semua pihak yang telah menyatukan langkah. Semoga kehadiran kita dicatat sebagai amal yang mengharumkan nama Madura, bahkan Nusantara. Mari sejenak kita kirimkan Al-Fatihah untuk para pendahulu kita, para pahlawan, semoga Allah menempatkan mereka di sisi-Nya.
Madura dan Indonesia: Satu Hati, Satu Tujuan, Sering kita mendengar pertanyaan yang menyentuh hati: “Kita mencintai Indonesia, tetapi apakah Indonesia mencintai Madura?”
Berapa banyak kekayaan yang dihasilkan dari tanah Madura — migas dan sumber daya lainnya — namun apakah kita merasakan keadilan yang setimpal? Jalan, fasilitas, kesejahteraan — masih banyak yang harus diperjuangkan. Namun janganlah pertanyaan ini membuat kita menjauh dari Indonesia. Justru karena kita mencintainya, kita berani mengingatkan: Madura adalah bagian tak terpisahkan dari Indonesia yang berdaulat dan berbudaya.
Kita belajar dari tokoh-tokoh bangsa seperti Sultan Syahrir dan Tan Malaka — mereka menempatkan kepentingan bangsa di atas segalanya. Saatnya kita berhenti meniru yang tidak perlu, dan mulai membangun dari rumah kita sendiri dengan kekuatan budaya dan kearifan lokal yang kita miliki.
Bahasa Madura Akar Sejak Majapahit
Prof. Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisono mengungkapkan kebenaran yang luar biasa: banyak kosakata dalam bahasa Madura saat ini berasal dari bahasa Kawi atau bahasa Jawa Kuno zaman Majapahit.
Contoh paling nyata: Bhinneka Tunggal Ika. Banyak orang tidak memahami makna mendalamnya, tetapi orang Madura langsung paham:
“Benni nekah, tonggel neka” ( bahasa Madura) Berbeda-beda, tetapi tetap satu jua.
Inilah inti keberagaman kita. Tidak mungkin semua pemikiran sama persis. Ada yang bernuansa nasionalis, ada yang sosialis-demokratis. Semua wajar, selama tidak ekstrem. Nasionalis jangan sampai menindas bangsa lain; peduli rakyat jangan sampai melupakan kedaulatan negara. Keseimbangan inilah yang menjadikan negara makmur dan rakyat sejahtera — bukan hanya angka pendapatan negara yang tinggi, tetapi kesejahteraan rakyat kecil yang benar-benar terasa.
Agama dan Budaya ,Sinergi yang Harmonis, Kita tidak harus memilih antara agama dan budaya. Keduanya bisa berjalan beriringan. Sejarah membuktikan hal ini.
Dari Kraton Sumenep, cerita Pangeran Katandur mengajarkan bagaimana dakwah berjalan beriringan dengan seni. Putranya, Kiai Kesendeng Sepuh, berdakwah di tengah masyarakat menggunakan media musik dan seni — metode yang bijaksana, mendekatkan hati sebelum menyampaikan pesan. Inilah akulturasi budaya yang indah: agama menjadi terang, budaya menjadi jembatan.
Madura memiliki seronin( musik tradisional Madura) yang beragam di setiap daerah — Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan — bentuknya mungkin berbeda, tetapi jiwanya sama. Tidak perlu diseragamkan, cukup dihargai dan dijaga keberadaannya.
Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan: Tentara Sabil, Pamekasan bukan sekadar tanah datar. Di bawah dan di atasnya tersimpan sejarah yang membanggakan. Tentara Sabil — pejuang yang bertekad mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan dengan segenap jiwa raga. Di lautan peluru, mereka tetap berdiri. Makam-makam pahlawan kita saksi bisu bahwa Madura adalah tanah pejuang.
Kita memiliki tokoh-tokoh luar biasa: M. Tabrani yang berjuang demi bahasa persatuan, para pendahulu yang membangun dari nol, dan rakyat sederhana yang tidak kaya harta tetapi kaya jiwa. Mereka bukan legenda semata — mereka adalah akar kita hari ini.
Kritik yang kita sampaikan hari ini bukan karena benci. Justru karena sayang. Ketika kita melihat sesuatu yang belum benar, kita luruskan — karena kita peduli. Seperti cubitan tanda perhatian: jika Tuhan memberi cobaan, mungkin kita harus belajar bertanya kepada rumput yang tetap tegak meski diterpa angin. Semangat inilah yang harus diwariskan kepada generasi muda Madura.
Penyerahan Keris: Simbol Tanggung Jawab Budaya, Di akhir kegiatan ini, Dewan Kesenian Pamekasan (DKP) menyerahkan sebilah keris kepada Ra Abbas, seorang ulama muda yang peduli pada budaya dan generasi. Penyerahan ini bukan sekadar pemberian benda, melainkan penitipan amanah:
“Agar kebudayaan senantiasa berjalan selaras dengan nilai-nilai luhur masyarakat Madura, sebagai gerbang Nusantara yang rahmatan lil ‘alamin.”
Semoga keris ini menjadi pengingat: tajamnya pikiran harus seimbang dengan lurusnya niat, dan kekuatan budaya harus menumbuhkan kebaikan bagi semua.
Pewarta:Ulum


