Pamekasan,GerakNusantara.id – Keberadaan mobil operasional milik Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang justru terparkir diam dan seolah menjadi pajangan di gedung KDMP, menuai sorotan tajam dari LSM RIAR JATIM.
Aset yang seharusnya bermanfaat untuk memajukan kesejahteraan warga, malah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Belum itu, hingga saat ini tak satu pun Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di wilayah Madura yang benar-benar beroperasi secara aktif dan produktif.
Zainudin, Ketua LSM RIAR JATIM, menyampaikan kekhawatirannya terkait kondisi tersebut. Menurutnya, mobil tersebut disiapkan untuk mempermudah mobilitas, menunjang kegiatan usaha, serta melayani kebutuhan anggota koperasi dan masyarakat luas. Namun kenyataannya, kendaraan itu justru lebih sering berdiam di tempat dan tidak digunakan untuk kegiatan produktif.
“Kami melihat langsung, mobil itu terparkir di area gedung KDMP, bersih dan utuh, tapi nyatanya tidak bergerak melayani warga. Kalau hanya untuk dipajang, untuk apa aset itu disiapkan? Harusnya berputar, menghasilkan, dan bermanfaat bagi banyak orang,” ujar Zainudin, Sabtu (29/8/2026).
Lebih jauh, Zainudin menyoroti fakta yang lebih memprihatinkan: sampai saat ini, tak satu pun Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh wilayah Madura yang telah beroperasi secara normal dan melayani warga. Padahal program ini telah digulirkan cukup lama, dan masyarakat sangat menantikan kehadirannya sebagai penopang ekonomi desa.
“Sangat disayangkan, bukan hanya kendaraannya yang jadi pajangan, bahkan lembaganya sendiri belum berjalan. Di mana-mana kami temukan kondisinya sama: belum beroperasi, belum melayani, belum memberi manfaat apa pun bagi warga. Lalu untuk apa program ini diluncurkan jika pada akhirnya hanya menjadi wacana dan hiasan belaka?” tegasnya.
LSM RIAR JATIM mempertanyakan komitmen pengelola maupun pihak pemerintah terkait. Jika sarana prasarana sudah tersedia, namun lembaganya sendiri belum berfungsi, lalu kapan kesejahteraan rakyat akan terwujud? Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa banyak program yang berjalan hanya sebatas seremonial tanpa dampak nyata bagi masyarakat.
“Koperasi didirikan untuk menyejahterakan anggotanya. Bukan untuk mempercantik halaman gedung, bukan juga sekadar nama di atas kertas. Mobil itu punya fungsi, punya nilai guna, dan biaya perawatannya pun tidak kecil. Membiarkannya diam begitu saja, apalagi lembaganya belum beroperasi sama sekali, sama dengan membiarkan peluang kesejahteraan warga terbuang sia-sia,” lanjut Zainudin.
LSM RIAR JATIM meminta kepada pengelola Koperasi Merah Putih maupun pihak pemerintah terkait untuk segera mengevaluasi dan memperbaiki hal ini. Segala kendala yang menghambat beroperasinya koperasi harus segera dicarikan solusinya. Mobil harus digunakan untuk kegiatan usaha, distribusi barang, pelayanan kepada warga, dan hal-hal yang langsung berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Jangan sampai sarana yang sudah disiapkan negara justru menjadi bukti ketidakpedulian terhadap kepentingan rakyat.
“Kami harap ini bukan sekadar proyek yang selesai saat peresmian saja. Aset rakyat harus bekerja untuk rakyat, bukan menjadi pajangan yang diam tanpa arti. Seluruh Koperasi Merah Putih di desa-desa harus segera beroperasi, melayani warga, dan memberi manfaat nyata. Semoga ke depannya, hal itu benar-benar terwujud, bukan hanya harapan tanpa jawaban,” pungkas Zainudin.
LSM RIAR JATIM berjanji akan terus memantau perkembangan ini, demi memastikan setiap aset dan program yang dimiliki rakyat benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan bersama.
Pewarta:Rofiqi


