
Pamekasan,GerakNusantara.id – Di tengah fluktuasi harga komoditas utama, tembakau kurusuk (daun kering tembakau) muncul sebagai penyelamat ekonomi petani di Kabupaten Pamekasan musim panen ini. Komoditas alternatif ini tidak hanya menawarkan perputaran modal cepat, tetapi juga membuktikan ketahanan pasar lokal dengan daya serap tinggi mencapai 4 ton per hari dari satu titik pengumpul saja.
H. Eksan, pedagang tembakau asal Kecamatan Proppo, menjadi bukti nyata vitalnya rantai pasok kurusuk. Ia mampu menyerap produksi petani dalam volume masif setiap harinya. Namun, bisnis ini bukan sekadar jual-beli biasa; ia menuntut keahlian teknis tinggi untuk memilah kualitas agar tidak merugikan kedua belah pihak.
“Memahami jenis kurusuk butuh belajar bertahun-tahun. Kami menggunakan kode klasifikasi ketat seperti AB, BC, hingga DC,” ujar H. Eksan.
Ia merinci bahwa harga kurusuk sangat bergantung pada warna dan kualitas olahannya. Kurusuk hitam dihargai Rp10.000–Rp13.000/kg, kurusuk merah Rp15.000–Rp19.000/kg, sementara kurusuk kuning—sebagai grade tertinggi—mampu menembus harga Rp20.000–Rp25.000/kg. Ketepatan klasifikasi inilah yang menjaga stabilitas transaksi di tingkat petani.
Dampak positif dari tingginya serapan kurusuk langsung dirasakan petani. Ahmad, salah seorang produsen tembakau, mengungkapkan bahwa penjualan kurusuk musim ini telah mengembalikan kepercayaan diri petani terhadap pasar. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang sering terjerat sistem utang-piutang, transaksi saat ini berjalan murni tunai.
“Sudah dua kali menjual kurusuk dan masih ada stok di sawah. Yang penting modal kembali, tidak rugi. Pengerjaannya pun gotong royong,” kata Ahmad.
Lebih jauh, Ahmad menegaskan bahwa hasil panen daun tembakau basah juga terserap lancar dengan pembayaran tunai. Kondisi ini sejalan dengan anjuran Pemerintah Kabupaten Pamekasan untuk memutus mata rantai ketergantungan petani pada tengkulak bermodal utang.
“Alhamdulillah sudah laku, dibayar tunai, dan tidak ada utang seperti tahun tahun lalu. Ini sesuai arahan pemerintah,” pungkasnya.
Keberadaan pasar tembakau kurusuk kini bukan lagi sekadar opsi cadangan, melainkan pilar penyangga likuiditas petani Pamekasan. Sinergi antara kemampuan sortir pedagang dan kedisiplinan pembayaran tunai membuktikan bahwa komoditas ini mampu menjaga kedaulatan ekonomi petani di tengah tantangan musim panen yang penuh ketidakpastian.(Ulum)


