Logo
Seni & Budaya

Tradisi "Notop Lolos" Buktikan Ketahanan Identitas Madura-Jawa di Era Modern

12 Jul 2026 Admin 17 views
Tradisi "Notop Lolos" Buktikan Ketahanan Identitas Madura-Jawa di Era Modern
Pamekasan,GerakNusantara.id – Di tengah derasnya arus modernisasi dan mobilitas tinggi masyarakat perantauan, tradisi pernikahan adat Madura "Notop Lolos" atau yang dikenal dalam versi Jawa sebagai "Undang Mantu" tetap lestari dijalankan. Ritual sakral yang melibatkan pengantaran mempelai wanita ke lingkungan keluarga suami. pada Minggu (11/7/2026),Notop Lolos membuktikan bahwa ikatan kekerabatan dan pelestarian warisan leluhur tidak luntur oleh waktu maupun jarak geografis. Notop Lolos, yang bermakna prosesi kepindahan pengantin wanita untuk menetap di kediaman suami, memiliki tujuan filosofis yang mendalam: agar sang istri resmi diterima dan dikenal oleh kerabat serta warga sekitar rumah pihak pria. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dimulai dengan persiapan matang dari pihak keluarga mempelai wanita, persis seperti saat prosesi akad nikah. Beragam hidangan khas seperti jajan desa dan roti disiapkan sebagai simbol penghormatan. Tidak hanya keluarga inti, tetangga sekitar juga turut berpartisipasi menyumbang tenaga dan materi, mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Madura perantauan. Abdul Hasan, selaku kepala rumah tangga pihak mempelai wanita, menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar seremonial, melainkan fondasi identitas yang wajib dijaga. "Ini dinamakan adat Madura yang tetap kami pegang dan jadi turun-temurun mulai dulu. Bermain ke rumah besan yang ada di Madura sekaligus silaturahmi ke besan; banyak yang dibawa buat oleh-oleh dan banyak yang ikut dari saudara-saudara saya," ujarnya. Bagi Abdul Hasan, Notop Lolos adalah wujud nyata penghormatan kepada mertua dan penguatan tali persaudaraan antar-keluarga besar yang mungkin sempat renggang karena hidup di kota berbeda. Menurut kedua mempelai (STMT) ,saya hanya mengikuti apa yang menjadi adat orang tua,adat madura.yang penting menjadi pengikat tali silahturrohim terjaga. Di era di mana interaksi tatap muka sering tergerus oleh kesibukan urban, ritual ini menjadi ruang sakral untuk merawat memori kolektif dan mengajarkan generasi muda tentang pentingnya silahturrohim dalam budaya Madura. Keberlangsungan tradisi ini juga menunjukkan adaptabilitas masyarakat Madura-Jawa dalam mempertahankan identitas di tanah rantau. Meskipun hidup di perkotaan dengan gaya hidup modern, mereka tetap menyelipkan nilai-nilai adat dalam setiap tahapan kehidupan, termasuk pernikahan. Dengan demikian, Notop Lolos bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga strategi kebudayaan yang relevan untuk menjaga kohesi sosial dan ketahanan identitas di zaman sekarang.( Ulum)

Komentar

Home Lowongan Tentang Redaksi

Kategori