Ketupat Idul Fitri: Tradisi yang Menyatukan Keluarga dan Tetangga
28 Mar 2026
•
Admin
•
81 views
Pamekasan,GerakNusantara.id – Setelah hari momen Idul Fitri yang penuh dengan doa dan silaturahmi, tradisi menyajikan serta berbagi ketupat menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Madura, khususnya di daerah-daerah yang masih menjaga erat nilai-nilai budaya lokal. Tradisi ini bukan hanya sekadar tentang makanan, melainkan juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi antara keluarga dan tetangga.
Di lingkungan Desa Klampar, Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan, warga biasanya mulai mempersiapkan ketupat menjelang tujuh hari setelah Idul Fitri, tradisi ini oleh masyarakat Madura di beri istilah. red ( tellasen pettok/topak) sebagaimana yang dituturkan Ibu Maimunah (45), salah satu warga setempat, mengatakan bahwa membuat ketupat bersama-sama sudah menjadi kebiasaan turun temurun dalam keluarganya. "Setelah Lebaran, kami biasanya kumpul bersama saudara dan tetangga untuk membungkus ketupat. Sambil bekerja, kita cerita-cerita dan berbagi kabar, jadi suasana semakin hangat," ujarnya.
Proses pembuatan ketupat sendiri melibatkan kerja sama antar anggota keluarga dan tetangga – mulai dari menyiapkan anyaman daun kelapa muda, memasak beras hingga merendamnya, hingga membungkusnya dengan hati-hati. Setelah matang, ketupat tidak hanya disajikan untuk makan bersama keluarga, tetapi juga dibagikan kepada tetangga sebelah, kerabat jauh, bahkan kepada mereka yang membutuhkan di sekitar lingkungan.
Bapak Maslukah (60), warga setempat, menjelaskan bahwa tradisi ini memiliki makna mendalam. "Ketupat yang berbentuk segi empat melambangkan kesatuan dan kesejahteraan. Saat kita berbagi, itu adalah wujud nyata dari nilai gotong royong dan rasa kasih sayang yang diajarkan dalam agama dan budaya kita," jelasnya.
Di beberapa tempat di wilayah Madura, tradisi ini juga diwarnai dengan acara kecil seperti makan bersama di halaman rumah atau di surau serta di Musholla, sebelum acara menyantap hidangan ketupat acara kumpul bersama itu di iringi acara tahlilan dan sholawatan serta di tutup dengan doa yang menandakan bahwa lebaran dari hari pertama Idul Fitri sampai hari ketujuh telah berakhir, juga dalam doa memohon keselamatan serta memohon di panjangkan umur sehingga bisa berkumpul kembali dengan sanak famili dan handaitaulan di lebaran tahun berikutnya, setelah itu makan ketupat di mana ketupat disajikan bersama dengan lauk-pauk khas seperti opor ayam, rendang, campur kuah serta sambal goreng, Hal ini membuat momen pasca-Lebaran semakin berarti dan mampu mempererat hubungan antar famili serta warga sekitar.(Rofiqi)