Hati Pedagang Pasar Kebalen Remuk, Waktu Dagang Dipangkas Habis
06 May 2026
•
Admin
•
322 views
Malang,GerakNusantara.id – Diumumkan kepada seluruh pedagang di kawasan Pasar Kebalen sepanjang Jalan Zainal Zaksee:
JAM OPERASIONAL DIBATASI MULAI PUKUL 24.00 WIB S.D 06.00 WIB.
Lembaran pengumuman resmi yang terpampang itu bak pisau tajam yang menyayat hati para pedagang Pasar Kebalen, Jalan Zainal Zaksee. Wajah-wajah lelah yang setiap hari berjuang demi sesuap nasi kini tertambah beban yang begitu berat. Aturan baru yang membatasi waktu berjualan hanya sampai pukul 06.00 pagi, dan mewajibkan area bersih total sejak pukul 02.00 dini hari, membuat jalan rezeki mereka seolah dipersempit dan diganjal keras.RABU 6 MEI 2026
"Air mata rasanya ingin terus menetes. Baru saja mata terpejam sebentar, harus sudah bangun membereskan barang. Begitu cepat waktu kami diambil. Rasanya sesak sekali dada ini menahan kecewa," keluh salah satu pedagang dengan suara parau dan bergetar, memohon identitasnya dirahasiakan.
Para pedagang mengenang masa lalu dengan mata berkaca-kaca. Dulu, aturan dibuat dengan hati, dengan rasa kekeluargaan dan kemanusiaan. Waktu dibagi dengan sangat adil:
- Area Barat (Jalan Kereta Api ke Barat): Dulu diberi kelonggaran hingga pukul 09.00 pagi. Area ini pun selalu tertib, jalan lancar, tidak pernah macet.
- Area Timur (Jalan Kereta Api ke Timur): Dulu lebih berhati-hati, diberi waktu hingga pukul 10.00 pagi.
"Dulu rasanya hidup itu mudah, aturan itu teman bukan musuh. Sekarang? Seolah-olah kami ini penyakit yang harus dibersihkan secepat mungkin. Padahal kami hanya ingin bekerja halal," ucapnya ARF.
Di bawah kepemimpinan Walikota Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM., mereka tidak menuntut dunia. Mereka hanya memohon setitik kasih sayang dan pengertian.
Hati mereka terasa perih mengingat masa pemilihan kepala daerah lalu. Tak sedikit dari para pedagang ini yang turun tangan, membantu, dan memberikan dukungan penuh agar Bapak Wahyu bisa duduk di kursi kepemimpinan saat ini.
"Kami ingat betul dulu masa kampanye, kami juga yang menyemangati, kami juga yang mendukung. Sekarang, kami hanya memohon agar Bapak bisa ingat kembali kepada kami, orang-orang kecil yang pernah ada di sisi Bapak," ungkap mereka dengan nada yang sangat memilukan.
Mereka hanya berani meminta agar waktu bersih diubah menjadi pukul 08.00 pagi. Itu pun bukan berarti mereka malas. Mereka hanya butuh waktu untuk mengemas barang dagangan dengan tertib, agar tidak rusak, tidak hilang, dan tidak merugi. Jika dipaksa harus selesai jam 06.00, semuanya akan kacau balau dan membuat hati mereka semakin hancur.
"Kami bersujud memohon kepada Bapak Wali Kota... Lihatlah kami, Bapak. Kami ini orang kecil yang berjuang demi menyekolahkan anak, demi menafkahi keluarga. Cukupkanlah waktu kami sampai jam 8 pagi saja... itu sudah sangat cukup bagi kami," pinta mereka.
"Kami tidak menolak kebersihan. Kami juga ingin kota ini indah. Tapi tolong... jangan sampai keindahan kota dibayar dengan kesengsaraan perut kami. Kami juga butuh makan, kami juga butuh hidup," tambahnya dengan suara tertahan isak tangis.
Situasi ini bagaikan dua sisi mata uang yang sama-sama menyakitkan. Di satu sisi ada aturan kota, namun di sisi lain ada nyawa-nyawa yang bergantung pada hasil dagangan.
Hingga saat ini, doa-doa tulus terus dipanjatkan di setiap sujud mereka. Mereka berharap ada keajaiban, berharap hati Bapak Wali Kota tergerak untuk mendengar rintihan ini, dan mau duduk bersama mencari jalan tengah yang tidak mematikan harapan mereka.
"Kami hanya ingin berdagang dengan tenang, Bapak... Bukan dengan hati yang ketakutan dan cemas setiap hari," tutup mereka dengan harapan yang mulai memudar ucapnya TM.(Aldo)