Berjuang di Langit, Tersungkur oleh Secarik Kekuasaan
26 Apr 2026
•
Admin
•
145 views
Surabaya,GerakNusantara.id - Barangkali benar apa yang pernah diucapkan Soekarno, bahwa perjuangan yang paling berat adalah melawan bangsa sendiri, Kalimat itu terasa hidup, getir, dan nyata di penghujung usia Ngateni (76), seorang warakawuri yang kini harus menelan pil pahit di masa senjanya.
Di usia yang seharusnya diisi ketenangan dan kenangan, Ngateni justru dibayangi pengosongan rumah dinas di lingkungan Perum AURI, Kelurahan Sawunggaling, Kecamatan Wonokromo, Surabaya.
Rumah sederhana itu bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu cinta, pengabdian, dan perjalanan hidup bersama almarhum Lettu Sambijanto, prajurit yang pernah mengabdi menjaga langit negeri ini.
Namun semua kenangan itu seperti hendak dipatahkan oleh secarik surat kekuasaan, melalui surat resmi Komandan Lanud Muljono, para penghuni diminta angkat kaki sebelum 24 April, dengan ancaman pengosongan paksa pada 28 April, bagi sebagian orang mungkin hanya soal aset negara, administrasi, dan aturan. Tetapi bagi Ngateni, itu adalah ancaman merenggut sisa hidup dan memaksa kenangan tercerabut dari akarnya.
Dengan tubuh renta yang dimakan usia, perempuan yang setia mendampingi suaminya hingga akhir hayat itu kini harus menghadapi kenyataan pahit terusir dari rumah yang puluhan tahun menjadi tempat merajut keluarga, membesarkan harapan, dan menyimpan jejak pengabdian, ironi terasa begitu telanjang mereka yang dulu berjuang demi negara, justru kini gamang mencari perlindungan dari negara yang sama.
“Yang saya inginkan hanya tinggal di sini sampai menutup mata,” lirih Ngateni, suaranya nyaris tenggelam oleh kesedihan. Keinginannya sederhana, tak meminta kemewahan, hanya ingin menjaga kenangan bersama almarhum di rumah yang menjadi saksi cinta mereka, namun bahkan harapan sesederhana itu kini terasa mewah.
Perum AURI yang dahulu menjadi simbol kehormatan bagi keluarga prajurit, kini bagi sebagian warakawuri justru menghadirkan kecemasan, dinding dinding rumah yang dulu penuh tawa keluarga prajurit, kini dipenuhi bisik ketakutan akan pengosongan.
Nasib Ngateni seperti potret luka yang kerap luput dari perhatian tentang pengabdian yang perlahan dilupakan, tentang mereka yang pernah menopang negeri namun di hari tua justru dipaksa berjuang sendiri, berjuang bukan lagi di medan tugas, melainkan melawan pengusiran dari rumah yang dianggapnya lebih dari sekadar tempat berteduh.
Mungkin benar, perjuangan di langit telah usai, tetapi bagi Ngateni, pertarungan di bumi belum berhenti, di usianya yang senja, ia masih harus mempertahankan rumah, kenangan, dan martabat, sebab kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan tempat tinggal, melainkan ketika pengabdian terasa tak lagi berarti.