Pamekasan,GerakNusantara.id – Pameran Keris Tradisional dengan tema “Warisan Budaya Jiwa Bangsa” memasuki hari kedua di kawasan Monumen Arek Lancor, Jalan Mesigit, Barurambat Kota. Pameran yang diikuti peserta dari berbagai daerah — Jember, Solo, Situbondo, hingga Sumenep — berlangsung hangat dan antusias.
Bupati Pamekasan KH Kholilurrahman bersama Sekda Pamekasan Taufikurrahman dan rombongan berkeliling menyapa satu per satu stan pameran. Bupati tampak menikmati kunjungan, berdialog akrab dengan para pengrajin dan penjual keris dari berbagai kota.
sebuah mangkok kuno peninggalan era Wali Songo, yang merupakan milik pribadi beliau sendiri dan saat ini sedang dititipkan kepada Ketua Dewan Kesenian Pamekasan, Mas Arief Wibisono. Mangkok unik ini mampu mengeluarkan bunyi jernih ketika digesek dengan telapak tangan.
Di stan asal Solo, Bupati melihat koleksi warangka keris berbahan kayu Cendana. Ia pun bertanya santai:
“Ini cendana mana kok kurang harum baunya? Cendana itu kan dari NTT.”
Penjual asal Solo menjelaskan dengan ramah sambil tersenyum, bahwa kayu cendana memiliki tingkatan kualitas: Grade A Plus, Grade A, dan Grade B. Yang terbaik adalah Grade A Plus, dan harganya pun sebanding — berkisar Rp1,5 juta hingga jutaan rupiah per kilogram, tergantung kualitas kayunya.
Di akhir kunjungannya, Bupati menyampaikan harapan agar pameran budaya ini terus berlanjut.
“Ke depannya, pameran seperti ini akan kita jadikan agenda tetap, diadakan setiap tahun,” ujar Bupati disambut tepuk tangan para peserta.
Para peserta menyambut gembira rencana tersebut. Mereka berharap pameran keris tahunan ini benar-benar terlaksana semakin besar dan rutin, sehingga budaya bangsa terus hidup dan diwariskan.
Pewarta:Ulum


