Malang,GerakNusantara.id – Jalanan Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, berubah menjadi lautan warna dan suara pada Sabtu (29/8/2026). Gelaran “Sekarpuro Carnival 2026” bertajuk Gate of Wonderland – Jelajah Budaya, Rayakan Kemerdekaan sukses menyatukan ribuan warga dalam euforia menyambut HUT RI ke-81. Bukan sekadar parade kostum, acara ini menjadi panggung kolaborasi apik dari 16 Rukun Warga (RW), di mana kreativitas individu disulap menjadi simfoni karya yang memukau.
Sorotan utama tertuju pada penampilan unik RW XI JOSJIS yang mengusung tema “Bicara Tanpa Kata, Menyapa Lewat Karya”. Berbeda dengan kontingen lain yang mengandalkan teriakan semangat atau musik keras, RW XI memilih jalan sunyi namun penuh makna. Melalui properti daur ulang yang artistik dan tata gerak teatrikal, mereka menyampaikan pesan kebangsaan secara visual. Penonton diajak untuk merenungkan esensi kemerdekaan melalui keindahan karya tangan, membuktikan bahwa komunikasi paling kuat seringkali tidak memerlukan sepatah kata pun.
Sementara itu, RW XII hadir dengan energi yang kontras namun sama-sama menghipnotis. Mengusung identitas “Klan RW12” dengan semangat “Nyawiji” (menyatu dalam bahasa Jawa), mereka menampilkan kekuatan kolektif yang solid. Kostum seragam yang megah dan choreography dinamis menggambarkan bagaimana perbedaan individu dapat dilebur menjadi satu kekuatan besar. Semangat Nyawiji ini menjadi representasi nyata dari sila ketiga Pancasila, menunjukkan bahwa persatuan adalah kunci kemakmuran desa.
Tak kalah menarik, Keluarga Besar RW 13 membawa nuansa kehangatan dalam kemeriahan. Dengan pendekatan yang lebih akrab dan interaktif, RW 13 mengingatkan bahwa kemerdekaan dirayakan paling indah ketika dilakukan bersama-sama layaknya sebuah keluarga besar. Interaksi spontan antara peserta dan penonton menciptakan atmosfer yang hangat, memperkuat ikatan sosial di tengah keramaian carnival.
Kepala Desa Sekarpuro, Sulirmanto, S.M., menegaskan bahwa carnival ini lahir dari aspirasi murni warga. “Ini sudah menjadi tradisi masyarakat Sekarpuro. Warga meminta agar karnaval diselenggarakan setiap tahun atau minimal dua tahun sekali,” ujarnya saat dikonfirmasi via WhatsApp. Permintaan tersebut menunjukkan tingginya rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat terhadap agenda kebudayaan desa mereka sendiri.
Tema Gate of Wonderland dipilih secara sengaja untuk menjembatani kekayaan budaya lokal menuju identitas Nusantara yang lebih luas. Menurut Sulirmanto, carnival ini menjadi panggung bagi warga untuk menampilkan kreativitas berkarya sekaligus memperkenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda. “Kami ingin menonjolkan kreativitas masyarakat dalam berkarya dan berbudaya, serta mengingatkan generasi penerus agar mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif dan mengenang jasa para pahlawan,” tuturnya.

Antusiasme warga terlihat jelas dari partisipasi aktif 16 Rukun Warga (RW) yang turun langsung memeriahkan acara. Persiapan yang matang juga dilakukan sejak satu tahun sebelumnya oleh Pemerintah Desa bersama seluruh elemen masyarakat. Dampak positifnya pun terasa nyata, terutama bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal yang mendapat momentum promosi selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Untuk menjamin kelancaran acara, Pemdes Sekarpuro berkolaborasi erat dengan Muspika, Linmas, Banser, dan Babinkamtibmas. Koordinasi lintas sektor ini memastikan ribuan penonton yang hadir dapat menikmati carnival dengan aman, tertib, dan kondusif.
Sulirmanto berharap Sekarpuro Carnival dapat terus lestari sebagai ikon desa, meski pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan dan kesepakatan warga. “Harapan kami, ke depan acara bisa lebih meriah namun tetap menjaga ketertiban dan keamanan bersama,” pungkasnya. Dengan kombinasi antara pelestarian tradisi, pemberdayaan ekonomi, dan pendidikan karakter kebangsaan, Sekarpuro Carnival 2026 membuktikan bahwa perayaan kemerdekaan di tingkat desa mampu menjadi ruang ekspresi budaya ya
Pewarta: Aldo35


